11 September 2014

The Seven Colours of The Sky

Rainbow is an optical and meteorological phenomenon that is caused by both reflection and refraction light in water’s droplet in the Earth's atmosphere, resulting in a spectrum of light appearing in the sky. It takes the form of a multicoloured arc. Rainbows caused by sunlight always appear in the section of sky directly opposite the sun.
All rainbows are full circles, however, the average observer only sees approximately the upper half of the arc, the illuminated droplets above the horizon from the observer's line of sight.
In a "primary rainbow", the arc shows red on the outer part and violet on the inner side. This rainbow is caused by light being refracted (bent) when entering a droplet of water, then reflected inside on the back of the droplet and refracted again when leaving it.
Rainbow can be seen after the rain. The perfect time and place to look for a rainbow needing bright sunlight in back and rain clouds off in the distance in the direction of your shadow. If it is later than 4.30 in the afternoon or earlier than 8.30 in the morning at these condition there is a very good chance to see a rainbow in the sky. Other places, rainbows can be seen in fountains, in the ocean as the waves crash against the rock which create a mist in the air, waterfalls, sprinklers and mist from a garden hose.
 How this is happened?

The rainbow is not located at a specific distance, but comes from an optical illusion caused by any water droplets viewed from a certain angle relative to the sun ray's. Thus, a rainbow is not an object, and cannot be physically approached. Indeed, it is impossible for an observer to see a rainbow from water droplets at any angle other than the customary one of 42 degrees from the direction opposite the sun. Even if an observer sees another observer who seems "under" or "at the end of" a rainbow, the second observer will see a different rainbow—further off—at the same angle as seen by the first observer.
A rainbow spans a continuous spectrum of colours. Any distinct bands perceived are an artifact of human colour vision and no banding of any type is seen in a black-and-white photo of a rainbow, only a smooth gradation of intensity to a maximum, then fading towards the other side. For colours seen by the human eye, the most commonly cited and remembered sequence is Newton's sevenfold red, orange, yellow, green, blue, indigo and violet.


There are 7 colours in the Rainbow
 

 





Red-Orange-Yellow-Green-Blue-Indigo-Violet
Yet few people realize that every color of the rainbow has its own deep-rooted psychological meaning. Here’s how this could help ensure that an annual report conveys all the right messages.
Red is active, powerful, stimulating, impulsive and successful. It’s attention-grabbing, and perfect for highlighting a company’s achievements during the year.
Orange represents physical excitement, abundance and enjoyment. It makes text stand out, and will really bring strings of divisional reports to life.
Yellow is fun, optimistic, creative and expressive of the desire for change – the ideal color for outlining future plans.
Green, being the center of the spectrum, is calm, reassuring, balanced and unchanging. Use this to emphasize your environmental record, or to take the sting out of bad news.
Blue and indigo are trustworthy, efficient and accurate, and ideal for indicating that your finances are healthy. Blue is also dependable, as in “true blue”.
Violet and purple are colors of quality, with charming, mystical and dreamy overtones. If they can’t give gravitas to the chairman’s letter, nothing will.

Shape of Rainbow


As we know, the rainbow just appears half of circle form, but actually the rainbow is a circle form. Rainbow can be seen perfectly, if it is seen by standing in the high place like in the air plane or standing on top of mountain. It is real that rainbow is a circle form not like parabola form. On the ground is not perfect but only half of circle form.

Interestingly, the location of the rainbow totally depends on the position of the person who can see it, and on the position of the sun relative to that person. If the sun is shining towards the eyes, rainbow can be seen. The sun needs to be behind the people, so that can see a rainbow and the sun at the same time.

Kisah Kita

Sebuah rumah sederhana
Berbalut dinding batu dan beralaskan semen
Berjarak 12 km dari lereng Merapi
Rumah yang menjadi bagian kisahku selama 5 hari

Hari-hariku menciptakan sejuta kisah baru
Kisah-kisah bahagia, kagum, sedih, dan haru
Membangkitkan rasa ingin tahu dan terpesona
Berbagi rasa dan pengalaman hidup denganmu

Senyumanmu yang tulus 
Meluluhkan setiap ketakutan dan keterbatasanku
Tanganmu yang rapuh namun kuat menopangku
Untuk sdenantiasa menjagaku dan melindungiku

Semua rasa capai dan lelah hilang seketika
Saat aku melihat semangat kerja kerasmu
Aku malu dan merasa tak berguna karena diriku yang lemah
Tak sebanding dengan kegigihanmu yang sangat besar 

Aku tahu dan sadar
Aku ini tidak lebih dari orang asing bagimu
Namun kasih sayangmu sungguh besar 
Melelehkan hatiku yang dingin dan angkuh
Menundukkan egoku yang tinggi

Kau adalah sebuah guru kehidupanku
Kau memberiku banyak pelajaran dan nilai-nilai berharga
Pelajaran yang tak pernah kudapat dimanapun selama ini
Tentang ketulusan, kesederhanaan, kebersamaan, dan semangat yang luar biasa
Membuatku sadar, menghargai, dan mensyukuri segala keadaanku

Terimakasih atas ketulusan dan cintamu 
Terimakasih telah mengukir kenangan manis didalam hatiku
Hanya sebuah kata ‘terimakasih’ yang mampu kuucapkan

Tak ada kata perpisahan yang tepat untukmu
Selain doa yang paling tulus dari hatiku

Kelak aku akan kembali ke sana
Melangkah mantap dengan senyum yang paling indah
Berbekal keberhasilan yang telah kucapai
Untuk membuatmu bangga dan bahagia suatu saat nanti

Sumber : Live In SMA REGPAC

12 km dari Lereng Merapi


Mungkin ini hanyalah sebuah kisah tentang keluarga kecil disebuah rumah yang sederhana serta letaknya yang jauh dari keramaian, pencemaran, dan hiruk pikuk kota. Semua pengalaman senang, sedih, kesal, capek, letih, dan haru kulaui bersama keluarga baruku. Kisah sederhana yang siap kuikuti dan kurasakan. Hari-hariku di desa kuawali saat tanggal 3 Juni 2013 dimana aku dan teman serumahku, Ully memasuki sebuah rumah yang beranggotakan 3 orang. Mereka adalah Bapak Inta, istrinya Ibu Rosa, dan eyang putri (ibu dari Bapak) yang berusia lebih dari 1 abad. Meskipun fisik mereka terlihat rapuh, namun harus kuakui semangatnya sangat luar biasa dan melebihi kami anak kota


Orangtua baruku menerimaku dengan sangat bahagia dan menyambutku dengan senyum hangat yang mencairkan suasana dingin ketika aku baru saja tiba dirumah tersebut. Rumah itu sederhana, beralaskan semen, tidak ada internit, dan dengan barang-barang seadanya. Meskipun sederhana, namun rumah baruku terawat dengan bersih. Awalnya aku mengira live in kali ini akan biasa-biasa saja, atau bahkan seperti live in yang pernah kulalui saat aku di bangku SMP. Tapi pemikiranku mulai berubah dengan berjalannya waktu dan kebersamaan yang kulalui dengan kehangatan dan kasih sayang dari keluargaku. 
Dihari pertama, saat semua orang dirumah, ibuku mengajakku untuk ke ladang. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengannya. Ladang itu terletak 1 km dari rumahku dan sedikit masuk ke dalam. Udara sore itu sangat sejuk dan suatu ketika rintikan lembut air membasahiku. Ladang yang siap untuk ditanami bibit cabe itu lumayan luas dan terdapat sekitar 25-30 polybag. Aku menanyakan tugas yang harus kukerjakan pada ibuku. Setelah aku diberikan pengarahan dan dilatik untuk menanam bibit-bibit itu, aku mulai memindahkan bibit-bibit itu dan memasukkannya kedalam galian lubang tanah tersebut dan menutupnya kembali dengan tanganku. 

Awalnya aku merasa itu pekerjaan yang sangat mudah dan tidak makan waktu lama. Namun, kenyataanya aku harus sabar membuka bungkus bibit itu satu-persatu dan memasukkannya ke dalam galian tanah tsb tanpa merusak akar kecil bibit tersebut. Tapi sore itu kami berhasil mendapatkan 1/3 dari lahan meskipun ada sebagian bibit yang harus terbuang karena jatuh di sawah.

Esoknya, kami kembali menlanjutkan menanam bibit-bibit cabe itu. Siang itu matahari sangat terik dan memanasi tubuhku. Padahal aku sudah memakai topi dan baju lengan panjang. Hatiku sudah berkata ingin berhenti saja, tapi begitu kulihat semangat bapak dan ibuku aku kembali semangat dan menghilangkan pikiran capek itu. Akhirnya tinggal 1/3 lagi yang tersisa. Sorenya kami kembali untuk menyelesaikan penanaman bibit tersebut. Ketika Ibu menanyai aku, “Sudah capek belom?”. Aku ingin sekali menjawab “Yaaaa.. Aku ingin istirahat” karena punggung dan dengkulku sudah pegal akibat harus jongkok dengan waktu yang sangat lama dan berdiri sebentar-sebentar. Tapi ketika kulihat kembali Ibuku yang penuh semangat menanam bibit-bibit itu, aku memutuskan untuk menahan rasa sakitku dan menghentikan keluh kesahku demi Ibu dan Bapakku. 

Sembari  bekerja, ibuku banyak bercerita tentang pengalaman pahit dan manisnya menjadi seorang petani. Petani bukanlah pekerjaan yang mudah dan bisa digantungkan keuntungannya. Karena hasil yang didapatkan petani tidak dapat dipredeksi dan membutuhkan waktu yang lumayan lama. Modal yang dibutuhkan untuk menanam bibit-bibit itu juga membutuhkan biaya tidak sedikit. Ibuku bercerita ia harus mengeluarkan modal uang sebesar 2juta untuk membeli bibit. Polybag dapat digunakan 3kali tanam saja dan setelahnya harus dilakukan rotasi tanah. Dan setiap minggunya harus diberi pupuk supaya dapat cepat tumbuh. Aku mulai sadar betapa sulit dan letihnya menjadi seorang petani. Padahal mereka bekerja keras demi menghasilkan makanan untuk kebutuhan banyak orang dan yang paling menikmati hasil mereka adalah kami, orang-orang kota yang seringkali malah menyia-nyiakan dan tidak menghargai. Aku juga sadar bahwa semua yang dapat kita makan adalah hasil dari sebuah proses panjang dan kerja keras para petani.

Selain itu, ibuku juga bercerita tentang kisahnya saat kejadian 2010 disaat Gunung Merapi meletus dan meninggalkan duka mendalam bagi banyak warga desa. Ibuku bercerita bahwa kejadian itu membuat salah satu lahannya hilang karena dilewati oleh erupsi merapi yang sekarang ini menjadi tempat tambang pasir. Padahal, dahulu daerah tersebut sangat subur dan mudah ditanami sayur apapun. Namun, ketika kutanya apakah beliau masih memikirkannya, beliau mengatakan dengan legawa bahwa keluarganya telah mengikhlaskan dan menjadikannya semua itu berkat. Aku sangat kagum dengan sikap mereka yang mau bersyukur saat keadaan tak membahagiakan sekalipun. Bahkan saat bencana tersebut, seluruh penduduk desa bersatu untuk membantu dan memenuhi kebutuhan satu sama lain karena seluruh tanaman di desa tersebut mati dan kering. 

Dihari yang keempat, aku melaksakan kerja bakti bersama teman-teman sedusunku. Kami mengumpulkan batu-batu dari sungai yang digunakan sebagai tambang pasir tersebut untuk digunakan sebagai bahan pembangunan gereja baru besok. Kami sangat lelah dan sinar matahari membakar kami semua karena kami kerja bakti jam 12 siang. Kami harus berjalan sampai di sungai tersebut dan mengangkut batu-batu tersebut digereja. Hal itu sangat terlihat susah, namun berkat usaha dan kekompakan kami, kami berhasil mengumpulkan dan membawa batu-batu tersebut untuk dibawa ke gereja. Kami senang karena kami telah melayani dan menjadi bagian dari pembangunan gereja baru tersebut.

Selama dirumah baruku, aku sangat bersyukur karena ibuku adalah seorang ibu yang sangat baik dengan perhatian denganku. Aku dan temanku selalu diberi makan dengan masakan yang enak dan selalu menyuruh kami untuk menambah makanan kami. Bahkan bapak dan ibu ku pun merelakan dirinya untuk makan terakhir setelah kami semua makan karena baginya kamilah yang terpenting dan mereka ingin memberikan yang terbaik untuk kami. Aku sangat berterima kasih atas perhatiannya yang sangat besar terhadap kami anak-anak angkatnya yang baru saja tinggal dengan mereka. Kasih sayangnya tak berhenti sampai disitu, mereka selalu menjagai kami saat kami keluar malam dan menunggu kami hingga kami masuk kerumah. 

Awalnya aku mengira bahwa 5 hari sangatlah lama dan membosankan, namun saat aku mengalami banyak pengalaman dan nilai-nilai kehidupan yang tidak kudapatkan sebelumnya, aku mulai merasa betah dan ingin tinggal lebih lama lagi. Aku ingin lebih lama merasakan dan menikmati keindahan alam dan segala sesuatu yang menarik disana. Namun mau tidak mau, aku harus berpamitan kepada bapak dan ibuku. Namun aku percaya bahwa itu bukan merupakan perpisahan terakhir, karena masih banyak perpisahan dan kedatanganku pada keluarga baruku di rumahku yang berjarak 12 km dari Lereng Merapi ini. Bagi kebanyakan orang mungkin tinggal di desa merupakan hal yang menjengkelkan atau bahkan menyedihkan. Tapi dari 5 hari ini aku telah mendapatkan sesuatu hal tentang keluarga, kebersamaan, cinta, kasih sayang, kerja keras, semangat bekerja, dan rasa syukur yang diberikan oleh keluargaku. Kelak, aku berjanji akan menjadi orang yang berhasil dan kembali kepada keluargaku di desa dengan memberikan senyuman yang paling membahagiakan untuk keluargaku disana. Terima kasih karena telah menjaga, merawat, dan memberiku nilai-nilai kehidupan yang sangat berarti dan membangun serta membuatku lebih mensyukuri semua hal yang telah aku miliki.

01 Mei 2013

Don’t Give Up !!!





Amsal 24 : 16
Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana”

            Pernah nonton film SOUL SURFER? Film ini diambil dari kisah nyata seorang peselancar muda bernama Bethany Hamilton, ia sudah suka berselancar sejak masih kecil dan biasa berselancar dengan keluarga dan teman-temannya. Ia juga sering menjuarai lomba berselancar. Suatu kali ia berselancar di Tunnels Beach, Kauai, Hawai dengan sahabat dan kedua orangtua sahabatnya. Pagi sekitar pukul 07.50 mereka mulai mengayuh papan selancarnya menuju tengah lautan untuk menyambut gelombang tinggi, namun belum sampai ombak datang, tiba-tiba seekor ikan hiu sepanjang 4,3 meter menyerang Bethany, tanpa ada perlawanan hiu itu menggigit lengan kiri Bethany. Ia kehilangan lengan kirinya. Ia putus asa dan marah kepada Tuhan mengapa hal berharga yang dipunyainya hilang. Namun berkat dorongan orangtua, saudara, dan sahabat-sahabatnya ia mau bangkit dan berjuang untuk melawan keterbatasan yang ia miliki dan melanjutkan cita-citanya menjadi seorang peselancar. Ia juga bersyukur karena ia masih bisa diberi kehidupan dan tidak mengeluh pada keadaannya. Kejadian yang menyakitkan dapat berubah menjadi pelajaran hidup dan pemulihan dirinya. Sejak itu ia selalu mensyukuri dan tidak pernah menyerah lagi
            Apa kalian pernah mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami oleh Bethany? Mengalami kegagalan atau keterpurukan? Tidak bisa mata pelajaran tertentu atau gagal melakukan sesuatu yang padahal sudah kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Kita ini adalah anak-anak muda yang sedang labil. Kita ingin menentukan arah masa depan kita besok. Namun, kita juga masih bingung mau berjalan dan menentukan kemana. Kita disibukkan dengan banyak tugas dan ulangan yang membuat kita capek dan bosan. Tak jarang dari kita mengeluh dan marah kepada Tuhan karena semua kesusahan yang kita lalui ini. Ada anak muda yang semakin jauh dari Tuhan karena kesibukannya sendiri.
            Saya juga pernah mengalami kegagalan dalam hal studi. Kegagalan saya adalah di pelajaran akuntansi. Dulu, saya selalu tidak tuntas dalam mata pelajaran akuntansi. Padahal, saya merasa jam belajar saya sudah cukup banyak. Saya mengikuti pelajaran dengan baik, mencatat, mengerjakan setiap tugas, dan belajar di luar jam sekolah dengan mengikuti kursus. Tapi, berkali-kali saya selalu gagal dan mendapat nilai dibawah target tuntas. Saya lelah dan sangat kecewa pada hasil pencapaian saya. Saya mulai menyalahkan pelajarannya, gurunya, dan bahkan soalnya. Saya tidak mau belajar dan justru menggerutu dengan keadaan saya. Saya enggan belajar lagi dan ingin hasil yang baik tanpa perjuangan yang banyak. Namun, suatu hari saya mendapat teguran dari mama saya. Ia mengatakan “Kalau mengalami kegagalan, ya belajar lagi. Memang ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan yang kamu inginkan”. Lalu sejak itu saya mulai mengkoreksi diri saya. Saya sadar bahwa selama ini jam belajar saya memang banyak, namun saya belum mendapatkan ‘pemahaman’ itu sendiri. Saya juga terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal pribadi yang tidak penting dan tidak seharusnya berguna untuk dilakukan. Mama saya juga mengingatkan kepada saya bahwa selama ini saya tidak mau dekat dengan Tuhan dan terlalu egois pada diri sendiri, padahal kunci dari keberhasilan seseorang ditentukan oleh campur tangan Tuhan. Saya mulai berlatih lebih banyak soal-soal akuntansi. Saya mulai menganalisis kelemahan dan materi yang kurang saya pahami. Saya berlatih dengan banyak soal-soal dan lebih fokus. Saya mulai mendekat kepada Tuhan lewat doa untuk penyerahan diri kepada-Nya. Saya berusaha dengan maksimal, dan Tuhan yang akan menyempurnakannya. Saya sangat merasakan cinta kasih Tuhan saat saya lelah dan mulai putus asa. Tuhan memberi saya kekuatan dan menemani saya. Sejak saat itu, saya mulai mendapat ‘pemahaman’ dan dapat mengerjakan soal-soal akuntansi. Bagi saya dulu pelajaran akuntansi merupakan ‘momok’ saya. Namun perlahan-lahan saya mulai terbiasa dengan akuntansi.
            Saat kita hidup, kita akan selalu bertemu dengan masalah. Mengalami kegagalan saat ulangan, tidak bisa sesuatu, ditolak atau tidak diterima, disalahkan, dimarahi, dsb. Hal itu membuat kita lemah dan tidak percaya diri lagi. Tuhan memberikan setiap masalah untuk mendewasakan diri kita. Kadang itu menyakitkan dan susah untuk dimengerti, tapi pasti Tuhan punya rencana yang indah untuk setiap kita. Bagai bejana yang siap dibentuk, kita harus siap menerima masalah-masalah itu dan tetap berpikir kritis dan positif saat mengalaminya. Tuhan tak akan pernah memberikan pencobaan melebihi kekuatan kita. Kadang kita tak mengerti maksud-Nya seperti apa untuk hidup kita.         Ada pelangi setelah hujan, ada sesuatu yang Tuhan sediakan bagi kita.
            Nah, sekarang tergantung respon kita dalam menghadapi suatu tantangan dan masalah tersebut. Kita menerimanya dengan positif, berjuang dan bangkit atau malah negatif, menyerah dan meninggalkannya. Tuhan tak pernah mau anak-anaknya menderita dan Ia mau setiap anak muda mengalami keberhasilan dan dibentuk menjadi bejana yang indah. Kalau kita ikut Tuhan, kita harus siap dibentuk menjadi sesuatu yang berharga, diatas rata-rata, dan tidak biasa-biasa saja. Ada sebuah kisah yang menceritakan penederitaan pensil karena ia harus dirauti, dihapus, diulang lagi. Ia merasakan sakit dan lelah, tapi dari kesakitan dan penderitaan seperti itulah ia dibentuk menjadi sesuatu yang berharga dan berguna bagi orang lain. Saat kita siap dibentuk, Tuhan akan bekerja.
            Seberapa besar waktu yang telah kalian sediakan dan kalian berikan untuk Tuhan? Tuhan mau setiap anak muda mendekat kepada-Nya. Kita diberikan waktu oleh Tuhan 24jam sehari. Tapi seberapa banyak waktu yang telah kita berikan untuk bersyukur dan memuji Dia? Ironisnya, seringkali kita malah mengeluh mengapa waktu sangat singkat dan padat. Kita menggunakan waktu yang sangat berharga itu untuk mengisi kesibukan kita sendiri dan akibatnya Tuhan dinomer “sekian”kan atau bahkan dilupakan. Waktu-waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bertemu Tuhan malah kita sia-siakan dengan hal-hal yang tidak berguna. Misalnya saja bermain handphone, game-online, browsing, pergi hang-out, pacaran, menggosip, dsb. Padahal Tuhan sendiri ingin berbicara dan bertemu secara pribadi dengan kita. Kalau kita menjauhkan diri kita dari Tuhan, kapan kita akan diberikan berkat dan peneguhan yang sangat luarbiasa itu? Setiap hari minggu kita ke gereja, namun setiap harinya kita sibuk dengan urusan-urusan kita sendiri, ya sama saja bohong. Tuhan mau kita selalu dekat dengan Dia, karena Dia sangat menyayangi kita.
            Sadarilah bahwa setiap masalah yang Tuhan berikan kepada kita adalah cara Tuhan untuk mendewasakan dan membuat kita semakin dekat dengan-Nya. Tuhan telah berkorban untuk menghancurkan segala kutuk dosa kita semua. Kita ini sangat berharga dimata Tuhan. Tuhan ingin kita menjadi biji mata Nya. Ia menginginkan kita berhasil. Tapi semua itu juga tergantung dari kita sendiri. Kita mau dibentuk atau tidak. Dalam sebuah keberhasilan, tidak ada yang tanpa pengorbanan. Seseorang yang berhasil selalu mau berusaha mencapai dan menghadapi setiap tantangan dan masalah tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan jahat dan tidak peduli pada kita. Ia dapat melakukan perkara-perkara besar yang belum tentu kita kira. Karena Tuhan adalah Allah yang menyediakan, tidak pernah memberikan batu pada yang meminta roti. Asal kita percaya dan tidak menyerah “digembleng” Tuhan, kita akan menemukan kebahagiaan dan keberhasilan. Semua itu proses dan semua tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Tuhan mau setiap dari kita menjadi anak-anak muda yang berhasil. Keep Fighting, don’t Give Up ! Haleluya !

           

We Are Special for GOD


Then smiled a big smile
And He created YOU !
He saw you and said,
"What a CUTE litte kid !
I'm proud of myself  and the nice work I did !
Just look at me face with it's sweet little nose
Those arms and that tummy, those fingers and toest
I did my work well, now let everyone see,
That this is a CHILD who special to ME !"